CIRI-CIRI WAHABI ADALAH CELANANYA CINGKRANG!
استغفرالله . ..
Kalimat ini sering kita dengar di majelis-majelis dan pembicaraan di tengah masyarakat.
Wahai Saudaraku...
Siapapun yg pernah mengucapkan kalimat serupa tanpa ilmu,
Hati-hati dengan ucapan tersebut .
Jika anda menggeneralisir seperti itu, maka konsekuensinya anda pun menuduh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasallam WAHABI.
Karena beliau tidak ISBAL (memakai kain melebihi mata kaki), dan justru dari beliau lah larangan ISBAL.
Tidak percaya?
Maka ketahuilah.. ilmuilah, sebelum MENCAP WAHABI kepada yang celana atau gamisnya diatas mata kaki.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الإِزَارِ فَفِى النَّارِ
“KAIN YANG BERADA DI BAWAH MATA KAKI itu berada di neraka.”
📕HR. Al Bukhari no. 5787
Bagaimana hukum menjulurkan celana atau kain sarung di bawah mata kaki saat shalat?
Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An Nawawi rahimahullah, salah satu ulama besar ahli hadits madzhab Syafi'i menukilkan salah satu hadits Larangan Isbal, karena jika Isbal, maka sholatnya TIDAK DITERIMA ALLAH AZZA WA JALLA.
Perhatikan nukilannya dibawah ini,
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يُصَلِّى مُسْبِلاً إِزَارَهُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ . فَذَهَبَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ ثُمَّ قَالَ اذْهَبْ فَتَوَضَّأْ . فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا لَكَ أَمَرْتَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ ثُمَّ سَكَتَّ عَنْهُ قَالَ إِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى وَهُوَ مُسْبِلٌ إِزَارَهُ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبَلُ صَلاَةَ رَجُلٍ مُسْبِلٍ
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ada seseorang yang shalat dalam keadaan isbal -celananya menjulur di bawah mata kaki-. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata padanya, “Pergilah dan kembalilah berwudhu.” Lalu ia pergi dan berwudhu kemudian ia datang kembali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berkata, “Pergilah dan kembalilah berwudhu.” Kemudian ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau memerintahkan padanya untuk berwudhu, lantas engkau diam darinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Ia shalat dalam keadaan isbal -MENJULURKAN CELANA DI BAWAH MATA KAKI, padahal ALLAH TIDAK MENERIMA SHALAT DARI ORANG YANG ISBAL (kain melebihi mata kaki).”
📕HR. Abu Dawud no. 4086
Lalu ada sebagian orang yang bilang, bahwa dalam hadits Abu Bakr radhiyallahu 'anhu, boleh Isbal jika tidak sombong.
Maka Ilmuilah, ketahuilah, Abu Bakr radhiyallahu 'anhu ISBAL KARENA BELIAU TELAH BERUSAHA MENGANGKAT KAINNYA NAMUN TERUS MELOROT TANPA DISENGAJA, BUKAN KARENA DISENGAJA.
Fahami dan ilmui benar-benar hadits Abu Bakr radhiyallahu 'anhu tersebut,
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ » . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ إِنَّ أَحَدَ شِقَّىْ ثَوْبِى يَسْتَرْخِى إِلاَّ أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ .فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّكَ لَسْتَ تَصْنَعُ ذَلِكَ خُيَلاَءَ
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menjulurkan pakaiannya dengan sombong, Allah tidak akan melihat dirinya pada hari kiamat.” Lantas Abu Bakr berkata, “Sungguh salah satu ujung celanaku biasa melorot akan tetapi aku SELALU MENJAGANYA (agar tidak melorot).” “Engkau bukan melakukannya karena sombong”, komentar Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Bakr.
📕HR. Al Bukhari no. 3655
Lihat, Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam mengomentari demikian karena Abu Bakr ISBAL BUKAN KARENA DISENGAJA.
Mari kita tutup pembahasan isbal ini dengan HADITS-HADITS SHAHIH berikut ini, tentang bagaimana Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengingkari para sahabatnya yang isbal TANPA MENYANYAKAN MAKSUD sahabat tersebut ber-isbal karena suatu maksud yang mengandung kesombongan atau tidak.
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مَيْسَرَةَ ، عَنْ عَمْرِو ابْنِ الشَّرِيدِ ، عَنْ أَبِيهِ أَوْ : عَنْ يَعْقُوبَ بْنِ عَاصِمٍ ، أَنَّهُ سَمِعَ الشَّرِيدَ يَقُولُ : أَبْصَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَجُرُّ إِزَارَهُ ، فَأَسْرَعَ إِلَيْهِ أَوْ : هَرْوَلَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، وَاتَّقِ اللَّهَ ” ، قَالَ : إِنِّي أَحْنَفُ ، تَصْطَكُّ رُكْبَتَايَ ، فَقَالَ : ” ارْفَعْ إِزَارَكَ ، فَإِنَّ كُلَّ خَلْقِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَسَنٌ ” ، فَمَا رُئِيَ ذَلِكَ الرَّجُلُ بَعْدُ إِلَّا إِزَارُهُ يُصِيبُ أَنْصَافَ سَاقَيْهِ ، أَوْ : إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ
Sufyan bin ‘Uyainah menuturkan kepadaku, dari Ibrahim bin Maisarah, dari ‘Amr bin Asy Syarid, dari ayahnya, atau dari Ya’qub bin ‘Ashim, bahwa ia mendengar Asy Syarid berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki yang pakaiannya terseret sampai ke tanah, kemudian Rasulullah bersegera (atau berlari) mengejarnya. Kemudian beliau bersabda:
“Angkat pakaianmu, dan bertaqwalah kepada Allah“. Lelaki itu berkata: “kaki saya bengkok, lutut saya tidak stabil ketika berjalan”. Nabi bersabda: “angkat pakaianmu, sesungguhnya semua ciptaan Allah Azza Wa Jalla itu baik”.
Sejak itu tidaklah lelaki tersebut terlihat kecuali pasti kainnya di atas pertengahan betis, atau di pertengahan betis.
📕HR. Ahmad dalam Al Musnad, 4/30
مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ! فَرَفَعْتُهُ. ثُمَّ قَالَ: زِدْ! فَزِدْتُ. فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ
“Aku (Ibnu Umar) pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku terjurai (sampai ke tanah). Beliau pun bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu!”. Aku pun langsung menaikkan kain sarungku. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Naikkan lagi!” Aku naikkan lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.”
📕HR. Muslim no. 2086
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بحجزة سفيان بن أبي سهل فقال يا سفيان لا تسبل إزارك فإن الله لا يحب المسبلين
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangu kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: ‘Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’”
📕HR. Ibnu Maajah no.2892, Shahih
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam TIDAK MENGECEK NIAT atau MAKSUD para sahabat ketika berisbal namun langsung diingkari, ini menunjukkan isbal itu HARAM walaupun bukan karena sombong.
Inilah hadits-hadits pamungkas yg BERLAKU UMUM, yang berlaku bagi siapa saja, baik karena sombong maupun tidak karena sombong.
Justru menolak hadits-hadits larangan isbal inilah yang termasuk SIKAP SOMBONG.
Tahukah anda apa SOMBONG itu menurut Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam?
Oke, berikut kami nukilkan haditsnya:
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. SOMBONG ADALAH MENOLAK KEBENARAN dan MEREMEHKAN ORANG LAIN .“
📕HR. Muslim no. 91
الله اعلم
Al Qur'an dan hadits-hadits shahih adalah KEBENARAN.
Maka janganlah meremehkannya dan meremehkan orang-orang yg menyampaikannya.
Semoga ulasan singkat ini menjadi jawaban atas syubhat-syubhat seputar isbal yg anda anggap WAHABI yg suka memecah belah ummat.
Jika anda tetap ngotot menganggap pembahasan ini memecah belah ummat dan tak mau bertaubat atas perkataan itu, maka otomatis anda terus menerus menuduh Rasulullah shallallahu alaihi Wasallam memecah belah ummat dengan sabda-sabda beliau yg mulia itu.
نعوذ بالله من ذلك
No comments:
Post a Comment